27
Sep
07

kafe et Cetera

liburan sudah dimulai dari hari Jumat sebelumnya. Sudah bisa diduga, Kota Bandung menjadi tujuan orang-orang yang ingin melepas kesumpekan dan penatnya suasana pekerjaan sehari-hari. Apalagi belakangan ini Bandung memang sering hujan, hawanya jadi terasa sejuk, cocok banget untuk mereka yang ingin berlibur.

Sore itu saya sedang berjalan2 bersama seorang teman, menikmati suasana Kota Bandung
sehabis hujan….well, minus kemacetannya, tentunya.
Ada yang bilang,”Orang-orang bandung itu kaya kodok, Kalo gak hujan pada diam
dirumahnya masing-masing, begitu hujan, pada keluar semuanya.”
Makanya gak heran kalo melihat jalan-jalan di bandung memang selalu padat dalam suasana hujan seperti ini.
Mobil, Motor, Sepeda dan lain-lain semuanya memadati jalan-jalan raya di bandung, jalan-jalan protokol, jalan-jalan layang, jalan tikus dan jalan-jalan lainnya. Belum lagi tambahan kendaraan-kendaraan dari luar kota Bandung juga, Semua simpang siur di jalan.

Tapi kadang saya menyukai suasana jalan macet, terutama pada saat menjelang malam, karena suasana akan menjadi terang benderang dengan warna merah dari kilatan lampu rem yang sedang menyala, seperti suasana panggung salah satu konsernya Beyonce yg pernah saya tonton, Waktu itu acaranya Mtv kalu gak salah, dimana panggung yang cukup luas dikelilingi sejumlah layar video yang sangat lebar. ketika konser mau mulai, tiba2 semu alayar menampilkan gambar close-up sirene yang sedang menyala dan seluruh ruangan konser disiram cahaya berwarna merah, lalu ditimpa dengan suara sirene yang sangat keras, kemudian terdengar beat hip-hop yang menghentak-hentak lalu……eh, salah topiknya yah?

Sampai mana tadi?

Oh iya, sore itu saya sedang berjalan2 bersama seorang teman, menembus jalan-jalan di bandung yang masih basah sambil menikmati coklat hangat yang kami beli dari dunkin donuts sebelumnya. Jam 4 sore, Langit masih terlihat mendung dengan sedikit nuansa merah, hujan rintik-rintik dan Laura Fygi di tape mobil.
It was a perfect afternoon.

Sore yang cocok untuk makan steak.
Semula kami bertujuan untuk makan steak di Suis, Setiabudhi sana, tapi sudah bisa ditebak, weekend seperti ini tempat itu gak mungkin kosong, dan jalan kesananya juga pasti padat banget. Membayangkannya saja bisa bikin selera makan hilang seketika, lebih baik cari tempat lain. Halaman, Tamani, Roger’s, nama2 tempat itu sempat terpikirkan untuk disinggahi, tapi tampaknya lebih baik mencari tempat makan yang lain lagi, setelah berdebat sejenak, akhirnya kami memutuskan untuk mencoba makan steak di Cafe Et Cetera yang berlokasi di seputaran Dago sana.

Cafe Et Cetera, tepatnya berlokasi di jln Trunojoyo, diatasnya markas Teras net ( ktr-nya jay ) sedikit. Dulu kabarnya memang tempat itu menyediakan steak yang lezat dan murah, tapi kemudian sempat tutup beberapa waktu untuk renovasi.

Suasana cafe itu lengang, lantai parket, dinding putih dengan frame kayu dan lampu2 sorot berwarna kuning memberikan suasana yg sejuk dan nyaman.Sore itu tak banyak pengunjung yang datang untuk makan, hanya satu-dua orang nampak sedang membaca sambil menikmati secangkir kopi atau sedang asyik dengan laptopnya. Justru suasana cafe seperti ini yang memang cukup sulit ditemui di bandung.

Kami memilih tempat duduk jauh ke dalam cafe, agar tidak tergangu oleh suara kendaraan yang hilir mudik dijalan dan suara air mancur yang agak keras, yang menurut teman saya malah terdengar seperti keran bak mandi yang lupa di tutup. Tempat di pojok ruangan, menghadap ke taman kecil dengan jalan setapak dari batu alam dan pohon di tengahnya. Sayang kursinya bukan sofa untuk duduk santai, hanya kursi makan biasa dari kayu.

Ok, Steak.
Setelah menikmati secangkir Lemon tea panas, kami mulai membolak-balik halaman menu untuk memilih hidangan utama Kalau soal steak, saya selalu memilih T-bone. Kenapa? Jelas karena ukurannya paling besar dibanding steak-steak yang lain Sirloin atau tenderloin memang enak, tapi T-bone adalah yg terbaik. T-bone it is.

Teman saya memilih Sirloin Steak dengan bumbu Barbeque dan messed potatoes sebagai pengganti irisan French Fries yang merupakan pasangan default-nya potongan daging lezat itu. Sedangkan saya memesan t-bone steak dengan bumbu barbeque juga, well done. Calamari sebagai appetizer dan ice cream jeruk sebagai dessert.

Oh, dan segelas air putih .

Ketika Steak di hidangkan, aromanya saja udah bisa bikin saya lupa kalo saya saat itu sedang ingin buang air kecil, tapi karena ingin menyantapnya tanpa beban apapun, akhirnya saya merelakan membuang waktu sejenak untuk menuju kamar kecil dan memenuhi panggilan alam tersebut, meskipun rasanya sulit mengalihkan pandangan dari potongan daging di piring lebar diatas meja makan cafe tersebut.

Dari potongan pertama steak yang saya makan sore itu, saya langsung bisa menyimpulkan kalo steak disini lebih lezat daripada steak di Suis ataupun di Tamani, karena bumbunya terasa lebih “Spicy” dan langsung meleleh di lidah begitu potongan dagingnya masuk mulut, Bumbu barbeque-nya benar2 lezat, seandainya saya datang seorang diri, piring makan saya bakal licin saya jilati setelah steaknya habis. tambah potongan buncis dan wortel di sela2 potongan daging, dan “membajak” piring diseberang untuk mencicipi messed potatoes-nya, yah, meskipun pada akhirnya setengah porsi messed potatoes tersebut pindah ke piring saya. hehehe, saya memang rakus. ;)

Sebenernya saya maih ingin nambah untuk ronde kedua, tapi jangan lah, porsi kedua pasti rasanya tidak akan senikmat porsi pertama.
Jadi sudahlah, jangan merusak suasana (dan berat badan) yang sudah ideal. satu ronde cukup, nanti di lanjut pada kesempatan berikutnya. Sebenarnya saya ingin memesan eskrim vanilla sebagi dessert, tapi karena sejak lahir saya baru beberapa kali saja menikmati eskrim jeruk maka saya memesan eskrim jeruk, dan ternyata saya salah pilih, eskrimnya rasanya masam karena ada potongan2 nanas dan strawberri juga didalamnya. saya memejamkan sebelah mata pada saat makan hidangan penutup tadi.

Satu lagi tempat makan yg saya rekomendasikan untuk dikunjungi di bandung.

review, photo & image editing oleh abiwara


7 Tanggapan ke “kafe et Cetera”


  1. 2 bohay
    Oktober 19, 2007 pukul 7:14 am

    Iya…emang enak tuh steaknya et cetera…btw, silahkan coba juga beberapa menu di cafe bali jl. riau. lumayan maknyes juga tuh. Apalagi makannya pas di halaman belakang diiringi life musicnya…(tiap hari gak ya..??) Silahkan mencoba…

  2. Oktober 23, 2007 pukul 3:06 am

    Sejak tahun 2000, Etc ini salah satu tempat must-visit gw tiap ke Bandung. Sesudah dia ganti manajemen, gw sempat 1x ke sana bulan Januari 2006, ngga menemukan comfort zone gw yang dulu, dan memutuskan untuk ngga akan balik lagi. Tapi klo liat dari foto steak di atas, kayaknya Etc udah balik ke konsep awalnya yah (yang versi Januari 2006, penyajiannya artistik banget, kayak makanan a la carte di hotel 5*). Maybe I should revisit it again :)

    Review versi gw ada di http://sparklingcyanide.multiply.com/reviews/item/4

  3. 4 rhona
    April 9, 2008 pukul 7:46 am

    duhh…jd kangen bandung, kebayang waktu pertama kali k Bandung hang out di salah satu mall dekat jln dago, hujan2 dan duduk di Mc.D, hiks…bandung is nice country deh poko nye, apalagi kuliner nya wuihhhh seruuuuuuuu abiezzzzz…

  4. Juni 19, 2008 pukul 6:05 am

    Somehow i missed the point. Probably lost in translation :) Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Nonliterary.

  5. September 13, 2008 pukul 8:15 am

    tempatnya masih yg dulu disebelah classic rock ngga?
    depanya apa ya lupa..restoran jg..kedai nyonya rumah kalo ga salah..betul ga?


Tinggalkan Balasan